Archive for ‘Manusia dan Tuhan’

11/18/2010

Adakah Imanmu Sudah Benar…???


“Islam itu didirikan atas lima perkara.”

Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (al-Fath: 4),

“Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”(al-Kahfi: 13),

“Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Maryam: 76), “Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad: 17),

“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya” (al-Muddatstsir: 31),

“Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya.” (at-Taubah: 124),

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka.” (Ali Imran: 173),

dan “Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah).” (al-Ahzab: 22)

Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari keimanan.

Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi sebagai berikut, “Sesungguhnya keimanan itu mempunyai beberapa kefardhuan (kewajiban), syariat, had (yakni batas/hukum), dan sunnah. Barangsiapa mengikuti semuanya itu maka keimanannya telah sempurna. Dan barangsiapa tidak mengikutinya secara sempurna, maka keimanannya tidak sempurna. Jika saya masih hidup, maka hal-hal itu akan kuberikan kepadamu semua, sehingga kamu dapat mengamalkan secara sepenuhnya. Tetapi, jika saya mati, maka tidak terlampau berkeinginan untuk menjadi sahabatmu.” Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata dengan mengutip firman Allah, “Walakin liyathma-inna qalbii” ‘Agar hatiku tetap mantap [dengan imanku]’. (al-Baqarah: 260)

Ibnu Mas’ud berkata, “Yakin adalah keimanan yang menyeluruh.”

Ibnu Umar berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat takwa yang sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang dirasa tidak enak dalam hati.”

“Doamu adalah keimananmu sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Katakanlah, Tuhanku tidak mengindahkan (memperdulikan) kamu, melainkan kalau ada imanmu.” (al-Furqan: 77). Arti doa menurut bahasa adalah iman.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Iman itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.”

Hadits Web.

11/01/2010

Agam Islam Itu Adalah Nasehat!!!


Nasehat bagi Allah”
Yaitu, beriman kepada-Nya semata dengan tidak mempersekutukan diri-Nya dengan sesuatu apapun, meninggalkan segala bentuk penyimpangan dan pengingkaran terhadap sifat-sifat-Nya, mensifati-Nya dengan segala sifat kesempurnaan dan kebesaran, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, mentaati-Nya dengan tidak bermaksiat kepada-nya, cinta dan benci karena-Nya, bersikap wala’ (loyal) kepada orang-orang yang mentaati-Nya dan membenci orang-orang yang menentang-Nya, memerangi orang-orang yang kufur terhadap-Nya, mengakui dan mensyukuri segala nikmat dari-Nya, dan ikhlas dalam segala urusan, mengajak dan menganjurkan manusia untuk berperilaku dengan sifat-sifat di atas, serta berlemah lembut terhadap mereka atau sebagian mereka dengan sifat-sifat tersebut.

Khaththabi berkata, “Hakekat idhafah (penyandaran) nasehat kepada Allah –sebenarnya- kembali kepada hamba itu sendiri, karena Allah tidak membutuhkan nasehat manusia”. (Syarah Shahih Muslim (II/33), dan lihat I’lamul-Hadits (I/191)).

“Nasehat bagi Kitab Allah”.
Yaitu, mengimani bahwa Kitab Allah adalah Kalamullah (wahyu dari-Nya) yang Dia turunkan (kepada Rasul-Nya) yang tidak serupa sedikit pun dengan perkataan makhluk-Nya, dan tiada seorang makhluk pun yang sanggup membuat yang serupa dengannya. Mengagungkannya, membacanya dengan sebenar-benarnya (sambil memahami maknanya) dengan membaguskan bacaan, khusyu’, dan mengucapkan huruf-hurufnya dengan benar. Membelanya dari penakwilan (batil) orang-orang yang menyimpang dan serangan orang-orang yang mencelanya. Membenarkan semua isinya, menegakkan hukum-hukumnya, menyerap ilmu-ilmu dan perumpamaan-perumpamaan (yang terkandung) di dalamnya. Mengambil ibrah (pelajaran) dari peringatan-peringatannya.

Memikirkan hal-hal yang menakjubkan di dalamnya. Mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (yang jelas) disertai dengan sikap taslim (menerima sepenuh hati) ayat-ayat yang mutasyabih (yang sulit) – yakni bahwa semuanya dari Allah-. Meneliti mana yang umum (maknanya) dan mana yang khusus, mana yang nasikh (yang menghapus hukum yang lain) dan mana yang mansukh (yang dihapus hukumnya). Menyebarkan (mengajarkan) ilmu-ilmunya dan menyeru manusia untuk berpedoman dengannya, dan seterusnya yang bisa dimasukkan dalam makna nasehat bagi Kitabullah (Syarh Shahih Muslim (II/33), dan lihat juga I’lamul-Hadits (I/191-192)).

“Nasehat bagi Rasulullah”.
Yaitu, membenarkan kerasulan beliau, mengimani segala yang beliau bawa, mentaati perintah dan larangan beliau, membela dan membantu (perjuangan) beliau semasa beliau hidup maupun setelah wafat, membenci orang-orang yang membenci beliau dan menyayangi orang-orang yang loyal kepada beliau, mengagungkan hak beliau, menghormati beliau dengan cara menghidupkan sunnah beliau, ikut menyebarkan dakwah dan syariat beliau, dengan membendung segala tuduhan terhadap sunnah beliau tersebut, mengambil ilmu dari sunnah beliau dengan memahami makna-maknanya, menyeru manusia untuk berpegang dengannya, lemah lembut dalam mempelajari dan mengajarkannya, mengagungkan dan memuliakan sunnah beliau tersebut, beradab ketika membacanya, tidak menafsirkannya dengan tanpa ilmu, memuliakan orang-orang yang memegang dan mengikutinya. Meneladani akhlak dan adab-adab yang beliau ajarkan, mencintai ahli bait dan para sahabat beliau, tidak mengadakan bid‘ah terhadap sunnah beliau, tidak mencela seorang pun dari para sahabat beliau, dan makna-makna lain yang semisalnya (Syarah Shahih Muslim (2/33), dan lihat juga I’lam al-Hadits (1/192)).

“Nasehat bagi para imam/pemimpin kaum muslimin”.
Artinya, membantu dan mentaati mereka di atas kebenaran. Memerintahkan dan mengingatkan mereka untuk berdiri di atas kebenaran dengan cara yang halus dan lembut. Mengabarkan kepada mereka ketika lalai dari menunaikan hak-hak kaum muslimin yang mungkin belum mereka ketahui, tidak memberontak terhadap mereka, dan melunakkan hati manusia agar mentaati mereka.

Imam al-Khaththabi menambahkan, “Dan termasuk dalam makna nasehat bagi mereka adalah shalat di belakang mereka, berjihad bersama mereka, menyerahkan shadaqah-shadaqah kepada mereka, tidak memberontak dan mengangkat pedang (senjata) terhadap mereka –baik ketika mereka berlaku zhalim maupun adil-, tidak terpedaya dengan pujian dusta terhadap mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Semua itu dilakukan bila yang dimaksud dengan para imam adalah para khalifah atau para penguasa yang menangani urusan kaum muslimin, dan inilah yang masyhur”. Lalu beliau melanjutkan, “Dan bisa juga ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan para imam adalah para ulama, dan nasehat bagi mereka berarti menerima periwayatan mereka, mengikuti ketetapan hukum mereka (tentu selama mengikuti dalil), serta berbaik sangka (husnu zh-zhan) kepada mereka”. (Syarah Shahih Muslim (2/33-34), I’lam al-Hadits (1/192-193)).

“Nasehat bagi kaum muslimin umumnya”.
Artinya, membimbing mereka menuju kemaslahatan dunia dan akhirat, tidak menyakiti mereka, mengajarkan kepada mereka urusan agama yang belum mereka ketahui dan membantu mereka dalam hal itu baik dengan perkataan maupun perbuatan, menutup aib dan kekurangan mereka, menolak segala bahaya yang dapat mencelakakan mereka, mendatangkan manfaat bagi mereka, memerintahkan mereka melakukan perkara yang ma’ruf dan melarang mereka berbuat mungkar dengan penuh kelembutan dan ketulusan. Mengasihi mereka, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari mereka, diselingi dengan memberi peringatan yang baik (mau‘izhah hasanah), tidak menipu dan berlaku hasad (iri) kepada mereka, mencintai kebaikan dan membenci perkara yang tidak disukai untuk mereka sebagaimana untuk diri sendiri, membela (hak) harta, harga diri, dan hak-hak mereka yang lainnya baik dengan perkataan maupun perbuatan, menganjurkan mereka untuk berperilaku dengan semua macam nasehat di atas, mendorong mereka untuk melaksanakan ketaatan dan sebagainya (Syarh Shahih Muslim (II/34), I’lamul-Hadits (I/193)).

Keutamaan Orang yang Memberi Nasehat
Menasehati hamba-hamba Allah kepada hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka merupakan tugas para rasul. Allah mengabarkan perkataan nabi-Nya, Hud, ketika menasehati kaumnya, “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian dan aku ini hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” (Q.S. Al-A‘raf: 68).

Allah juga menyebutkan perkataan nabi-Nya, Shalih, kepada kaumnya setelah Allah menimpakan bencana kepada mereka, “Maka Shalih berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’” (Q.S. Al-A‘raf: 79).

Maka seorang hamba akan memperoleh kemuliaan manakala dia melaksanakan apa yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul. Nasehat merupakan salah satu sebab yang menjadikan tingginya derajat para nabi, maka barangsiapa yang ingin ditinggikan derajatnya di sisi Allah, Pencipta langit dan bumi, maka hendaknya dia melaksanakan tugas yang agung ini (Qawaid wa Fawaid (hal. 94-95)).

Hukum Nasehat
Imam Nawawi menukil perkataan Ibnu Baththal, “(Memberi) nasehat itu hukumnya fardhu (kifayah) yang telah cukup bila ada (sebagian) orang yang melakukannya dan gugur dosa atas yang lain.” Lebih lanjut Ibnu Baththal berkata, “Nasehat adalah suatu keharusan menurut kemampuan (masing-masing) apabila si pemberi nasehat tahu bahwa nasehatnya akan diterima dan perintahnya akan dituruti serta aman dari perkara yang tidak disukainya (yang akan menyakitinya). Adapun jika dia khawatir akan menyebabkan bahaya (yang mencelakakan dirinya), maka dalam hal ini ada kelapangan baginya, wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim (II/34)).

10/30/2010

Jangan Kamu Mati!!! Sebelum……….


1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, “Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Handhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah setiap waktu (saat). (HR. Muslim)

5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)

7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

8. Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

9. Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

10. Menang pacuan “Almufarridun”. Para sahabat bertanya, “Apa Almufarridun itu?” Nabi Saw menjawab, “Laki-laki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Almufarid ialah orang yang gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yang dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.

11. Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

Penjelasan:
Rezeki yang secukupnya artinya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.

13. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :

“Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

 

14. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apa keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim)?” Nabi Saw menjawab, “Keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim) ialah surga.” (HR. Ahmad)

15. Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

16. Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

Tag: ,
07/27/2010

Ummul Kitab di Nisfu Sya’ban


Malam Nisfu Sya’ban malam dimana di bukanya Umul Kitab oleh Allah. Allah melihat catatan kebaikan dan keburukan amal manusia selama setahun belakangan dan di evaluasi pada malam Nisfu Sya’ban, apakah manusia layak diberi kehidupan lagi atau kematian, layak mendapat rezeki, jodoh dan lain sebagainya, yang menentukan arah kehidupan manusia setahun kemudian.

Di Gorontalo perayaan atau pelaksanaan malam Nisfu Sya’ban di lakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang menggelar Majelis Zikir semalaman, ada yang melakukan sholat 100 raka’at baik secara jama’a atau sendiri. Ini di lakukan agar malam Nisfu Sya’ban tidak terlewati dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.

Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi’in, begitu pula tentang malam Nisfu Sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan tabi’in ahli fiqih Syam.

Bagi Anda yang biasa melaksanakannya dan yang tidak melaksanakannya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa Anda semua, amin.

07/08/2010

Dunia Dalam Genggaman


Di dalam Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman :”Wahai anak Adam !,
• Jadilah orang yang qana’ah maka kamu akan menjadi orang kaya;
• Tinggalkan hasad, niscaya kamu akan berbahagia;
• Jauhilah perkara haram, itu berarti kamu telah membersihkan agamamu;
• Barangsiapa tidak menggunjing, hal itu akan melahirkan cintaku KepadaNya;
• Barangsiapa meninggalkan manusia, maka ia akan selamat darinya;
• Barangsiapa sedikit bicara, maka sempurnalah akalnya;
• Barang siapa yang ridha dengan harta yang sedikit, berarti ia telah percaya dan yakin kepada Allah”;
• “Wahai Anak Adam!, mengapa tidak kamu amalkan apa yang kamu ketahui. Mengapa kamu mencari pengetahuan yang tidak kamu ketahui”.
• “Wahai Anak Adam!, Kamu telah berbuat (kebajikan) di dunia seolah-olah tidak akan mati, dan mengumpulkan harta seolah akan hidup selamanya”.
• “Wahai dunia, janganlah engkau memberi kepada orang yang ambisi kepadamu, tetapi carilah orang yang zuhud. Bermanis-manislah terhadap orang yang memandangmu”

Marilah kita orang yang pertama yang bersyukur atas segala ketetapan yang Allah berikan kepada kita, tidak iri hati terhadap orang lain, meninggalkan berbau haram atau syubhat, menjauhi manusia yang tak berakhlak, tidak banyak bicara, tidak kemaruk harta dunia, mengamalkan ilmu berguna yang kita dapatkan dengan mengajarkannya, berbuat kebajikan sebagai bekal kita di akhirat nanti serta zuhud kepada dunia yang penuh kemilauan.

Dengan mengamalkan hadist qudsi di atas akan menjadikan kita mendapat predikat manusia paling sempurna/ Insan Kamil di mata Allah SWT. Hidup ini indah tapi akan lebih indah bila kita menjadi manusia yang dikasihi Allah SWT.

06/22/2010

Ibadah Cinta


Dalam mendefinisikan cinta kita kepada Allah yakni dengan melakukan ibadah yang tiada henti tanpa ada keluhan. Ibadah cinta yang demikian akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat kelak.

Ini adalah kutipan Hadist Qudsi yang bisa kita jadikan pegangan untuk mendapatkan  ridha dari Allah SWT, semoga bermanfaat buat saya dan Anda sekalian.

Di dalam Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman :”Wahai anak Adam !.
1. Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya kematian, namun ia bergembira (seolah mati itu tidak ada);
2. Aku heran kepada manusia yang meyakini hisab (hari perhitungan semua amal manusia/hari pembalasan), namun ia semakin tamak mengumpulkan harta;
3. Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya akhirat, namun ia tetap bersantai (untuk urusan duniawi);
4. Aku heran kepada manusia yang meyakini adanya kesirnaan dunia, namun ia menggantungkan ketenangan kepadanya (dunia);
5. Aku heran kepada orang yang pandai bersilat lidah, namun sesungguhnya jiwanya kosong;
6. Aku heran kepada orang yang bersuci dengan air, tapi ia tidak pernah membersihkan hatinya;
7.Aku heran kepada orang yang sibuk mengurusi aib orang lain, sementara ia lupa pada aib dirinya sendiri;
8. Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa Allah melihatnya, namun ia mendurhakanya;
9. Aku heran kepada orang yang percaya bahwa ia akan mati dan sendirian dalam kuburnya, namun ia tidak senang bergaul dan berbuat baik dengan sesama.
10. (Sesungguhnya) Tiada Tuhan selain Aku, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Ku.

04/12/2010

Eksistensi Tuhan dan Fenomena Mukjizat


Implikasi Mukjizat Terhadap Kenabian

Persoalan pertama yang muncul berkaitan dengan implikasi mukjizat terhadap kenabian adalah apa yang sebenarnya ingin kita buktikan dengan mukjizat, apakah dengan mukjizat kita berargumentasi tentang pelaku mukjizat (baca: Nabi), ataukah kita berdalil tentang kebenaran ajaran Nabi, ataukah yang kita inginkan adalah kedua-duanya? Dalam hal ini, tidak ada fokus dan kejelasan pandangan dari para pemikir dan teolog Barat.

David Hume menyatakan bahwa orang-orang beriman berargumentasi dengan mukjizat berhubungan dengan risalah sang penyelamat (Isa Al-Masih As)[1]. Thomas Aquinas dan Jhon Lock keduanya beranggapan bahwa mukjizat berimplikasi terhadap kebenaran ajaran dan risalah keimanan dan lebih khusus lagi berhubungan dengan dimensi kebenaran ajaran yang diperdebatkan oleh agama-agama, dengan bersandar pada anggapan itu mereka berkata bahwa ajaran Kristen tentang ketuhanan Masehi ditetapkan dengan perantaraan mukjizatnya.

read more »

04/08/2010

Manusia Paling Rumit


Suatu bahasan yang paling menarik dan rumit adalah bahasan yang menyangkut pokok persoalan manusia dan kehidupannya. Manusia adalah subjek yang mengetahui akan tetapi sekaligus ia juga objek terpenting pengetahuan manusia tersebut.

Dengan demikian maka keberadaan manusia merupakan persoalan paling rumit yang di hadapi manusia sepanjang sejarah. Terlebih lagi persoalan manusia lain dalam suatu kehidupan bersama.  Keberadaan manusia, merupakan suatu materi yang tak pernah habis ditelaah dan diungkap oleh manusia sendiri.

read more »

04/05/2010

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah


Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok.

read more »

03/25/2010

Letak Kesalahan dalam Pemikiran Keagamaan


Akal manusia -berdasarkan apa yang telah dikatakan dalam pembahasan tentang parameter dan mizan kebenaran dalam rasionalitas dan Epistemologi- perlu melakukan berbagai peneltian, observasi, dan pencarian untuk menemukan dan menyingkap persoalan- persoalan yang hakiki dan realitas-realitas yang obyektif, dan setelah dia menemukan hakikat-hakikat tersebut, maka semestinya dia merancang dan membentuk kehidupannya yang sesuai dengan pengetahuan dan makrifat hakikinya itu dan berupaya menyesuaikan perilaku-perilakunya dengan pengetahuan yang diperolehnya, termasuk di dalamnya adalah tindakan-tindakan yang berkaitan dengan politik dan sosial kemasyarakatan.

Metode dan alur pemikiran manusia bisa jadi berada pada salah satu dari tiga jalan berikut: induksi (istiqra’), analogi (tamtsil), dan argumen (burhan).

read more »

03/19/2010

Kesuksesan Hidup Melalui Sholat


Saya mencoba untuk mengetengahkan fungsi dan manfaat sholat dalam kehidupan sehari-hari, dalam pencapaian kesuksesan serta membangun karakter kepribadian. Fungsi dan manfaat dari sholat saya kutip dari buku “ESQ (Emotional Spritual Quotient) karya Ary Ginanjar Agustian. Semoga bermanfaat!!!

Sholat lima waktu adalah sebuah relaksasi yang sangat di butuhkan dan sangat penting untuk menjaga kondisi emosi serta pikiran seseorang dari tekanan luar yang berkepanjangan, yang seringkali mengakibatkan tenggelamnya pikiran ke dalam arus deras persoalan kehidupan yang datang silih berganti, serta mengakibatkan kebodohan emosi dan kebodohan intelektual dan bahkan bisa mempengaruhi kondisi kesehatan jasmani. Relaksasi melalui sholat akan memberikan ruang berpikir bagi perasaan intuitif untuk menjaga dan menstabilkan kecerdasan emosi serta spritual seseorang sekaligus menjaga keutuhan fitrah suara hati.

read more »

03/18/2010

Jangan Kau Sholat!!!!


Sholat sebagai rutinitas kewajiban yang harus di jalankan oleh umat muslim merupakan pelebur atas semua perilaku yang tidak baik dari manusia. Dengan sholat akan ada keteraturan dalam perilaku sebagaimana sholat teratur dalam setiap gerakannya. Sholat yang di mulai dengan berdiri menghadap qiblat sebagai penghambaan kita pada sang Khalik dan menumbuhkan kerelaan dan keikhlasan hati. Takbiratul Ihram merupakan penghalusan atas sikap kita yang sombong, takabur. Rukuk merupakan pencitraan diri dari kerendahan hati manusia. Sujud sebagai kecintaan dan keteguhan diri dalam perilaku.

Jadi alangkah sia-sialah sholat bila dalam kehidupan sehari-hari perilaku kita sangat buruk, dalam berbicara, bertingkah laku dan  lain-lainnya. Sholat yang demikian hanya sebagai rutinas atas kewajiban yang di perintahkan oleh Allah, tanpa menyentuh kerelung hati yang dalam.  Berdiri menghadap qiblat sampai salam hanya sebagai gerakan-gerakan biasa tanpa di selami arti dan makna gerakan tersebut. Ucapan Allahu Akbar sampai Wassalamu alai’kum di penghujung salam hanya ucapan-ucapan lisan yang basi tanpa arti.

Kita harus sadari sholat itu di perintahkan bukan tanpa makna dan arti dalam setiap gerakannya. Kita harus menjiwai dengan seluruh jiwa agar terasa oleh tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian di resapi sampai ke tulang sum-sum. Hingga demikian sholat akan bermakna dan akan membentengi diri kita dari perbuatan

02/28/2010

Dimensi-Dimensi Akal


Para filosof membuktikan adanya beragam dimensi pada diri manusia. Pada tahapan pertama, mereka membuktikan adanya “dwi dimensi” yang dimiliki oleh manusia dan menjabarkan argumentasi untuk dimensi non-materi-nya, dengan mengatakan bahwa materi memiliki tiga karakteristik, pertama mengalami perubahan, kedua bisa dibagi, dan ketiga memiliki dimensi ruang dan waktu. Jika ketiga sifat ini diperoleh pada suatu realitas, berarti realitas tersebut adalah materi, dan apabila ketiga karakteristik materi ini tidak ditemukan pada sebuah realitas, maka realitas tersebut adalah non-materi atau metafisika. Dan karena jiwa manusia sama sekali tidak memiliki ketiga karakteristik tersebut, jadi jiwa manusia merupakan sebuah realitas non-materi dan metafisik.

read more »

02/25/2010

Mengapa Manusia Pesimis dalam Hidup?


Ketika aku membuka akun FB-ku, ada seorang teman memberikan komentar di dinding FB-nya dengan berkata: “Ya Allah kenapa hidup ini tidak pernah berubah, begini-begini terus dari dulu sampai sekarang?” Aku jadi heran dengan orang sedemikain rupa pesimis dalam hidupnya.

Kemudian aku blogwalking mencari artikel yang ada hubungannya dengan orang yang pesimis dalam hidupnya. Inilah artikelnya, selamat membaca dan semoga bermanfaat!!!

Terdapat dua faktor umum yang mendorong manusia menganut Nihilisme:

1. Faktor internal atau individual;

2. Faktor eksternal atau sosial.

Adalah tidak diragukan bahwa dalam kerangka pengenalan manusia mustahil dipisahkan dari pengaruh individu dan masyarakat, karena keduanya saling berpengaruh satu sama lain dan kalau faktor-faktor di atas dibagi menjadi dua bagian tidak lain adalah semata-mata karena intensitas efek dan pengaruh faktor yang satu atas faktor lainnya. Faktor-faktor internal seperti ketiadaan atau kesalahan dalam pendidikan, perasaan terhina, tidak rela atas dirinya, dan aspek kejiwaan lain. Faktor-faktor eksternal seperti kerusakan lingkungan sosial, perubahan nilai-nilai manusia, pandangan dunia, dan lain lain.

Pada kesempatan ini, hanya faktor-faktor yang terpenting yang akan dianalisa. Di antara banyak faktor yang mungkin berpengaruh dalam mengantarkan manusia ke lembah pesimisme dan nihilisme, yang akan disebutkan adalah faktor-faktor yang bersifat umum dan universal yang meliputi banyak motivasi-motivasi partikular. Sebagai contoh, kerusakan dan kesalahan pendidikan merupakan salah satu faktor yang umum dan universal yang bisa mencakup aspek-aspek partikular seperti ketiadaan kasih sayang dalam program pengajaran, pendekatan yang non-manusiawi, kekerasan, dan lain-lain.

read more »

02/24/2010

Akal, Wahyu dan Jalan Mengenal Tuhan


Pengenalan dan pengetahuan akan keberadaan Tuhan merupakan hal yang asasi dan prinsip bagi manusia yang beragama, meskipun nantinya konsep tentang Tuhan berbeda sesuai dengan doktrin-doktrin suci agama dan penafsiran aliran kepercayaan masing-masing. Tapi pada intinya, semua agama dan aliran kepercayaan tersebut menegaskan dan membenarkan wujud suci dan agung Tuhan.Jika kita ingin mengindentifikasi metode-metode pencapaian makrifat kepada Tuhan oleh setiap orang, maka bisa kita katakan bahwa setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri dalam meraih makrifat tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa jalan-jalan menuju Tuhan sebanyak jiwa-jiwa makhluk yang ada di alam ini. Tetapi apabila kita ingin meninjau sisi yang sama dari jalan-jalan makrifat kepada Tuhan tersebut, maka terdapat beberapa pendekatan universal yang dapat mencakup semua manusia.

Di bawah ini terdapat beberapa metode dalam pencapaian makrifat kepada Tuhan, antara lain:

read more »

02/05/2010

13 Unsur Kejadian Manusia


Proses pembentukan manusia dalam rahim, melalui 13 tahapan unsur kejadian yakni:
a. Unsur dari Bapak terdiri dari kuku, kulit, daging dan tulang;
b Unsur dari Ibu terdiri dari bulu roma, nadi, darah dan sum-sum;
c Unsur dari ALLAH terdiri dari tanah, air, api dan udara;
d. Satu dari unsur Rahasia.

read more »