Archive for Oktober, 2010

10/30/2010

Jangan Kamu Mati!!! Sebelum……….


1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, “Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Handhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah setiap waktu (saat). (HR. Muslim)

5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)

7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

8. Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

9. Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

10. Menang pacuan “Almufarridun”. Para sahabat bertanya, “Apa Almufarridun itu?” Nabi Saw menjawab, “Laki-laki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Almufarid ialah orang yang gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yang dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.

11. Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

Penjelasan:
Rezeki yang secukupnya artinya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.

13. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :

“Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

 

14. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apa keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim)?” Nabi Saw menjawab, “Keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim) ialah surga.” (HR. Ahmad)

15. Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

16. Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

Iklan
Tag: ,
10/29/2010

Jangan Salahkan Dosamu



Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
“Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil.
Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah (Surah (33) Al-Ahzab ayat: 17 )

Allahumma arinal haqqo haqqo…warzuqni tibaah wa arinal batila…batila warzukna tinabah.

Jadi tergantung pada diri kita masing-masing apakah mau jadi orang baik atau mau jadi orang yang buruk. Jangan mempersalahkan nasib atau siapa pun jika telah berbuat banyak dosa selama ini. Diri sendiri yang menggiring ke perbuatan dosa, Allah hanya memudahkan jalan untuk melakukan perbuatan tersebut.

10/26/2010

Karunia Allah Yang Menipu


Yahya bin Mu’adz ra mengatakan: “Wahai orang yang tertutup oleh kenikmatan dan perlindungan, janganlah anda terjebak. Karena dibalik itu ada dampak buruk kepedihan. Janganlah  terjebak oleh waktu-waktu yang anda penuhi ibadah, karena dibalik itu ada bencana-bencana lembut. Dan jangan pula terjebak oleh sucinya ‘Ubudiyah, karena dibalik itu anda malah lalai kepada Rububiyah.”
Masalahnya seperti apa yang dikatakan oleh beliau: Wahai, betapa banyak orang yang teristidroj oleh kebajikan, betapa banyak orang teristidroj pujian padanya, betapa banyak yang tertimpa istidroj  oleh fitnah kenikmatan, betapa banyak yang hancur oleh tirai seakan-akan elok baginya.
Karena itu siapa pun yang dalam batinnya tidak bersiteguh dengan Allah Ta’ala, maka dzohirnya jelas, bahwa keragu-raguannya lebih kuat daripada yaqinnya, walaupun dzohirnya menujukkan sifat-sifatnya orang yang yaqin. Ia kehilangan cahaya batin karena terpesana oleh gerak-gerik dzohir. Ia alpa dari rumitnya dampak Istidroj karena terlalu memandang suci ubudiyahnya.
Bagi orang yang tertolong oleh Allah jangan berpegang teguh selain Allah, dan bagi yang terhinakan jangan putus dari harapan.

  • Istidrojnya aktivis dosa adalah menikmati dosanya dan terus menerus berdosa, disamping berpaling dari Allah Ta’ala.
  • Istidrojnya ilmuwan adalah upayanya mencari derajat dan posisi di tengah massa.
  • Istidronya ahli Ijtihad adalah memperbanyak dan mengagumi hasil Isjtihadnya.
  • Istidrojnya para murid (penempuh) adalah terpakunya pada anugerah dan karomah serta terpaku pada keduanya.
  • Istidrojnya kaum ‘arifin (ahli ma’rifat) adalah merasa cukup dengan kema’rifatannya bukannya kepada Allah yang dima’rifati, hingga mereka  anggap ma’rifatnya sebagai tujuan finalnya, dan mereka merasa telah mencapai kema’rifatan itu sendiri.
  • Siapa pun yang posisinya tinggi, maka Istidrojnya lebih besar serta lebih lembut.
  • Betapa banyak orang yang berdzikir tetapi sesungguhnya alpa pada Allah swt.
  • Betapa banyak orang yang takut sesungguhnya ia berani kepada Allah swt.
  • Betapa banyak orang yang mengajak menuju Allah, sesungguhnya ia jauh dari Allah.
  • Betapa banyak yang membaca Kitabullah sesungguhnya ia terlepas dari ayat-ayat Allah swt.

Abu Sa’id al-Kharraz ra mengatakan:

  • Bila aku tinggalkan dunia dan aku merasa bangga telah mampu meninggalkannya, maka rasa bangga itu lebih besar dosanya ketimbang menyimpan dunia.
  • Bila aku bisa meninggalkan aib-aib nafsu dan aku kagum bisa meninggalkannya, maka kagum itu adalah aib terbesar.
  • Bila anda berjuang dan bergantung pada wujud perjuanganmu, maka ketergantunganmu itu adalah resiko besar daripada istirahat.
  • Bila anda takut pada allah Ta’ala dan anda merasa aman dengan rasa takut, maka aman yang muncul dari rasa takut itu lebih besar dosanya.
  • Memandang kedekatan kepada Allah Ta’ala dalam aktivitas taqarrub adalah jauh yang sebenarnya.
  • Memandang  kemesraan dalam aktivitas kemesraan adalah lebihbesar untuk dijauhinya.
  • Melihat dzikir dalam dzikir adalah kealpaan terbesar.
  • Melihat ma’rifat dalam kema’rifatan adalah kemungkaran terbesar.

Seorang ahli ma’rifat  mengatakan, “Ketika  aku menyangka aku telah menemukanNya, pada saat yang sama aku telah kehilangan Dia. Ketika aku menyangka aku kehilangan Dia, saat itu aku menemukanNya. Oh Tuhanku, ketika aku meninggalkanMu Engkau mencariku. Ketika aku mencariMu Engkau menolakku. Padahal tak ada tempat kecuali bersamaMu, juga tak ada kebahagiaan selain Engkau. Sungguh Engkaulah tempat pertolongan, dan hanya menuju kepadaMu.”

Abu Ya’qub ra mengatakan, “Yang paling bodoh dilakukan hamba kepada Allah Ta’ala, manakala si hamba merasa cukup dengan ma’rifatnya di dunia ini.”
Yahya bin Mu’ad ra, mengatakan,  ”Dosa yang membuatmu sangat butuh kepadaNya itu lebih baik dibanding taat yang membuatmu bangga atas taatmu padaNya.”

Fudhail bin Iyadh ra, adalah tokoh yang banyak menangis dan sering mengulang ayat ini: “Dan tampaklah kepada mereka (berupa kebajikan) dari Allah apa yang tidak pernah mereka lakukan kepada Allah”.
Beliau katakan, “Mereka melakukan amaliah yang banyak, dengan menyangka bahwa itu semua adalah kebajikan, dan ternyata adalah keburukan, ketika tampak dari Allah bahwa mereka belum sama sekali berupaya berbuat baik.”

http://www.sufinews.com