Kemana Larinya Kearifan Suami?


Kearifan diri dalam menghadapi musibah adalah bukti kematangan jiwa dan kecerdasan ruhani. Di mata-Nya kita akan di agung-agungkan di hadapan malaikat-malaikat-Nya serta bakalan mendapat gelar manusia sempurna. Kearifan kita dalam berbuat , berbicara, bersikap dan berfikir dalam segala hal semulia-mulia makhluk di atas bumi, seperti halnya junjungan kita Nabi Muhammada SAW.
Artikel ini terkait dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu yang kemudian jadi renungan kita bersama sebagai seorang suami.
Pasti Anda pernah mendengar Hasan Kesuma yang menggegerkan Indonesia dengan mengajukan surat permohonan ke Pengadilan Negeri Tinggi Jakarta Pusat agar istrinya Agian Isna Nauli di –euthanasia yakni di suntik mati karena tidak tahan melihat penderitaannnya.


Ibu Agian ini mendadak koma setelah melahirkan anak kedua secara Caesar. Lima bulan kemudian Agian terbangun namun kondisinya tidak normal kembali karena mengalami kerusakan otak permanent, tangan dan kakinya lumpuh serta matanya buta. Sitti Fadillah Supari waktu itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan langsung bergerak cepat menangani Agian dengan menempatkannya di Rumah Sakit Marzuki Mahdi yang seluruh perawatan dan pengobatannya di tanggung oleh pemerintah. Sekarang dia sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya mulai membaik namun sayangnya suami yang harus mendampinginya dikala sakit entah pergi kemana rimbanya. Pihak rumah sakit telah berusaha menghubunginya tapi telah putus kontak selama dua tahun.
Pandir Hulodu bisa merasakan betapa nelangsanya Ibu Agian. Seharusnya sekarang ini ada yang memberi dukungan moril buat Agian karena kondisinya perlu belaian kasih sayang dari orang terdekatnya terutama suami dan anak-anaknya.
Sebagai suami yang bertanggung jawab kita di wajibkan untuk saling membagi asih dikala senang dan susah apalagi kita telah di anugrahi anak dari rahim istri kita. Kita di rawatnya sedemikian telaten tanpa mengenal lelah di tambah merawat anak-anak kita dan rumah serta isinya. Jadi ketika istri kita mendapat musibah kayak Ibu Agian sebagai suami yang baik membagi asa dan asih terhadap penderitaanya dengan merawat dengan sebaik-baiknya sampai kondisinya pulih walaupun itu musykil sembuh. Kita tetap harus berusaha berjuang dan berdo’a . Disinilah dibutuhkan kearifan kita sebagai suami dalam menghadapinya bukan malah lari dari tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: