Fana’ Fil Sifat


Arti Fana yakni lenyapnya indrawi atau kebasharian. Barang siapa yang telah di liputi hakikat ke Tuhanan sehingga pandangannya tidak akan tertuju pada alam lahir, alam rupa dan alam wujud. Maka orang demikian bisa di katakan, dia telah fana dari alam cipta dan baqalah dia ke dalam kebaqaannya Zat Allah. Karena hilangnya sifat-sifat buruk lahir bathin dan kekalnya sifat-sifat terpuji. Fana yang demikian di sebut Fana Af-Al, Fana Fil Af-Al, Fana Fil Sifat.


Pendapat para ahli tasauf yang artinya: “Apabila nampaklah Nur kebaqaan Allah maka fanalah yang tiada dan kekallah yang kekal. Dalam riwayat lain: ” Tasauf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa  dengan Tuhannya hanya kehadiran hati mereka bersama Allah”, pada riwayat lain yang artinya:

“Dan firman Allah kepada Nabi Musa AS sesungguhnya kamu tidak dapat melihat Aku apabila kamu masih berada pada dirimu, dan ketika kamu Musa dapat melihat Aku maka kamu pun tanpa tiada pada dirimu, dan tidaklah mungkin bagi yang baharu tetap adanya ketika nampaknya zat yang qadim”.


Jadi pengertiannya dengan fananya segala sifat Nabi Musa AS, jadilah dia menduduki sebagai hamba yang bersifat tiada dan baqalah kepada yang besifat kekal.

Tujuan fana ialah meniadakan diri supaya ada, leburnya pribadi pada kebaqaan Allah. Karena dimana perasaan keinsanan itu lenyap disebabkan diliputi oleh rasa ke-Tuhanan. Semua rahasia yang menutupi diri dengan Al-Haqqu Ta’ala tersingkap ketika antara diri dengan Allah menjadi satu dalam baqanya Zatullah. Bersatu Abid dan Ma’bud dalam pengertian seolah-olah manusia dengan Tuhan sama.  Syekh Abdul Qadir Jailani Muhibuddin berkata dalam Insan Kamil yang artinya: “Bahwa sesungguhnya hamba dalah hamba, Tuhan adalah Tuhan, tidak mungkin hamba jadi Tuhan dan tidak mungkin Tuhan jadi Hamba”.

Selanjutnya Syekh Abdul Qadir Jailani Muhibuddin berkata: “Adalah tanda-tanda kasyaf itu ialah pertama fananya seorang dari dirinya karena jelasnya Tuhannya, kedua fananya seorang dari pancaran Tuhannya karena jelasnya rahasia Tuhannya, ketiga fananya seorang dari segala yang menyangkut sifatnya karena Tahqiqnya Zat Allah”.

Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah berkata yang artinya: “Dan di dalam kefaannku, leburlah kefaanku. Tapi di dalam kefaanku itulah bahkan aku mendapatkan Engkau/ Al-Haqqu Ta’ala”.

Ahli-ahli tasauf membagi fana atas tiga atau empat tingkat yakni fana fil af-al, fana fil sifat, fana fil asma dan fana fil zat. Pintu fana lewat dawamuz-zikri yakni berkekalan berzikir dengan Allah, dawamun-misyan yakni tetap lupa pada yang lain.

Dalam sebuah riwayat yang artinya: “Annur ialah ibarat bintik-bintik yang letaknya di dalam hati seorang hamba Allah, dari makna tersebut dengan Nur itu seorang bisa melihat yang Haq dan yang Bathil, jadi kesimpulannya adalah Taqwa”. Jadi pengertiannya adalah nampaknya keyakinan yang tersedia dalam hati yang di karuniai atas manisnya ibadah seseorang sebagai bukti bertumbuhnya iman dan kuatnya keyakinan.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Takutilah firasat orang mukmin karena sesungguhnya seseorang itu akan melihat pertolongan dengan Nur Allah”.  Perlu di ketahui bahwa alam wujud ini adalah merupakan nur cahaya lahiriah seperti cahaya matahari, bulan dan bintang. Di dalam alam malakut (alam gaib) nur cahaya bathin terbagi tiga bagian:

1. Nurul Ilmu yakni laksana bintang yang dapat menampakkan perkara-perkara akhirat.

2. Nur Ma’rifat yakni laksana bulan yang kemampuannya dapat menampakkan dirinya di ufuk tauhid serta dapat menampakkan seseorang untuk mendekatkan diri dengan Allah.

3. Nur Ma’ani yakni laksana cahaya matahari yang kemampuannya dapat menampakkan di ufuk Ta’arif, lenyap diri dalam kebaqaan Zatullah dan dapat memperkuat iman dan keyakinan untuk menghadap kepermukaan Nurul Jalilu.

Sebagaimana Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Hanyalah dengan cahaya iman dan cahaya keyakinan seseorang yang bisa ia tumpangi kehadirat Allah”.

Tempat terbitnya cahaya adalah cahaya qalbi, cahaya ruh dan cahaya sirrih. Cahaya Qalbi merupakan tempat terbitnya Nur Tawaju, yang mendorong konsentrasi perhatian semata-mata kepada Allah. Cahaya Ruh adalah tempat terbitnya Nur Ahadiya yang dapat  membuka tabir penghalang kepada seorang hamba untuk menghadap kepada Zat yang Wajibul Wujud. Cahaya Sirrih yakni tempat terbitnya Nur wahdaniyah yang dapat berpandang-pandangan antara Zat pencipta dengan yang di ciptakan.

About these ads

3 Komentar to “Fana’ Fil Sifat”

  1. Kunjung lagi nich, tapi maaf ini ada PR buat Anda INI DIA PR-NYA silahkan ke TKP!

  2. Wah mau komen apa ya aku jadi bingung, tapi yang jelas kunjung balik nich. Selamat sore sukses selalu buat semua yang ada disitu!

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: